Tuesday, February 17, 2015

Target Penerimaan Pajak Disebut Bikin Merinding

JAKARTA - Target penerimaan pajak yang ditetapkan pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) sebesar Rp1.484,6 triliun dianggap terlalu besar hingga membuat merinding.
Chief Economist Bank Rakyat Indonesia (BRI) Anggito Abimanyu merasa pesimis dengan target pajak yang ditentukan, yakni sebesar Rp1.484,6 triliun.
"Penerimaan pajak menurut saya sangat menantang, saya merinding lihat target (pajak) segini," ungkapnya di Gedung BRI, Senin (16/2/2015).
Dia menuturkan, dalam membuat perencanaan pajak ada banyak hal yang perlu diperhatikan, termasuk relaksasi masyarakat. Menurutnya dengan pertumbuhan pajak mencapai 29,5 persen dibanding tahun lalu, maka itu merupakan hal sulit, namun sebaiknya kenaikan pajak dari tahun sebelumnya sekitar 10 persen.
"Pengalaman saya 10 tahun, range 5 persen sampai 10 persen paling tinggi 20 persen dari basis tahun sebelumnya rasanya cukup konfiden," tandasnya.

Menangkan Gugatan Komjen BG, Hakim Sarpin Dikecam

SEMARANG - Sejumlah aktivis pro-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar demonstrasi mengecam keluarnya putusan Hakim Sarpin Rizaldi yang mengabulkan gugatan Komjen Pol Budi Gunawan.
"Kami mengecam. Hakim Sarpin itu budak Polisi," kata koordinator aksi, Eko Haryanto, di Bundaran Air Mancur Jalan Pahlawan Semarang, Jawa Tengah, Senin (16/2/2015).
Aktivis pro-KPK yang menolak putusan Hakim Sarpin itu berasal dari Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KP2KKN) Jawa Tengah.

Sekretaris KP2KKN Jawa Tengah, Eko menyatakan, putusan Hakim Sarpin mencederai semangat pemberantasan korupsi dan secara langsung menurunkan wibawa Presiden Joko Widodo.
"Efeknya ke Jokowi. Ini bisa dianggap sebagai pembiaran Jokowi dan menunjukkan Jokowi bukan negarawan," tegas Eko.
Dalam melakukan demonstrasi, belasan aktivis KP2KKN itu membawa sapu dan simbol kuburan. Dalam petanda kuburan, tertulis RIP KPK, Lahir (16/12/2013), Wafat (16/2/2015).
Menurut Eko, putusan Hakim Sarpin memang berpotensi menghabisi KPK. "Kita akan melakukan resistensi. Putusan Hakim Sarpin memang akan membunuh KPK," tegas Eko.

1.000 Mahasiswa Terancam Kehilangan Beasiswa PPA

BENGKULU - 1.000 mahasiswa berprestasi di Universitas Bengkulu terancam kehilangan beasiswa Peningkatan Potensi Akademik (PPA) karena Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menghapus beasiswa itu.
"Ini sangat mengecewakan mahasiswa karena selama ini menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk mempertahankan prestasi akademik," kata Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bengkulu, Yusuf Kurniawan di Bengkulu, Sabtu (14/2/2015).
Ia mengatakan, penghapusan beasiswa PPA tersebut ditolak oleh organisasi mahasiswa se-Indonesia melalui koordinasi yang dilakukan melalui media sosial dengan tagar #savebeasiswaPPA.
Penghapusan beasiswa PPA ditegaskan dalam Surat Dirjen Pendidikan Kemendikdasmen Nomor 43/E.E3/BD/2015 bertanggal 26 Januari 2015. Dalam surat itu disebutkan bahwa beasiswa PPA direncanakan bersumber dari APBN Perubahan 2015. Namun, anggaran dari APBNP itu dialokasikan untuk pembangunan "Science and Technology Park" . "Bersama BEM seluruh Indonesia kami sudah mengirim surat ke Kementerian yang isinya menolak keputusan itu," kata Yusuf.
Bahkan sebagian perwakilan BEM se-Tanah Air sudah bertemu dengan Dirjen Pendidikan Tinggi untuk mendesak pengalokasian beasiswa tersebut. Hasilnya, kata Yusuf, Direktur Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Prof Supriadi Rustad menyatakan bahwa beasiswa PPA akan tetap diadakan dan surat edaran Nomor : 43/E.E3/BD/2015 akan direvisi. "Kami menunggu komitmen Dirjen Dikti untuk merevisi surat edaran itu dan BEM akan terus mengawal informasi ini hingga surat edaran baru diterbitkan," katanya.
Yusuf mengatakan, beasiswa PPA dan Bidik Misi selama ini dialokasikan untuk mahasiswa yang memiliki prestasi akademik dan memiliki berbagai prestasi lainnya. Pemberian beasiswa sebesar Rp2,1 juta per semester tersebut menjadi motivasi mahasiswa untuk senantiasa meningkatkan prestasi.

Harga BBM Berpotensi Naik di Awal Maret

BOGOR - Dengan mulai rebound-nya harga minyak dunia beberapa pekan terakhir ini, membuat pemerintah mempertimbangkan untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar maupun Premium pada awal bulan Maret 2015.
Tercatat harga minyak dunia saat ini, sudah naik ke level USD59 per barel. Sebelumnya, harga minyak dunia terperosok ke level USD48 per barel.
"Kan harga minyak dunia sedang naik, akhir bulan mungkin akan naik, tapi enggak tahu kita (besarannya). Tergantung harga internasional," sebut Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil, di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (16/2/2015).
Menurut Sofyan, penetapan naik-turunnya harga BBM tidak bisa langsung dipatok besarannya. Pasalnya, harus melihat pergerakan harga rata-rata minyak dunia.
"Enggak bisa patokan, tergantung harga internasional. Karena kita masih impor. Tergantung (naiknya), kalau harga minyak dunia USD50 per barel bisa jual BBM Rp6.600 per liter, kalau USD45 per barel bisa turun lagi. Kalau USD60 per barel pasti naik lagi," jelas Sofyan.


Di sisi lain, Sofyan menyebut bahwa harga BBM pada bulan Februari 2015 tidak mengalami perubahan. "Bulan ini, sampai akhir bulan masih tetap. Untuk tanggal 15 sampai akhir bulan Februari tetap," imbuhnya.
Pergerakan harga BBM seperti ini, kata Sofyan, memang sudah mengikuti harga keekonomian dengan melihat pergerakan harga minyak dunia.
"Akhir bulan tergantung, kalau Harga turun ya turun. Harga dunia naik ya naik. Itulah namanya keekonomian. Tapi naiknya itu tentu sesuai. Bahkan kalau di negara yang bagus, harian naiknya," tutupnya.