Sunday, February 22, 2015


Saturday, February 21, 2015

Jakarta Kota Termacet di Dunia, Tanggung Jawab Siapa?

JAKARTA – Plt Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hermanto Dardak mengakui DKI Jakarta tercatat sebagai kota termacet di dunia.
"Jakarta sebagai kota nomor satu termacet di dunia, ini bukan main-main lho. Yang turut bertanggung jawab adalah instansi terkait dalam hal tata ruang diJakarta, termasuk DPD REI Jakarta," ucap Hermanto saat diskusi Ayo Membangan Jakarta, di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (21/2/2015).
Hermanto menambahkan, tantangan yang dihadapi untuk membangun DKI Jakarta memang banyak, seperti masalah yang selalu dijumpai adalah macet dan banjir.
"Kawasan kumuh juga tantangan infrastruktur di Jakarta. Implikasinya memang banyak, ini tambah kompleksnya tantangan yang akan dihadapi," sebut dia.
Terlebih lagi wilayah Ibu Kota tidak terlepas dari campur tangan daerah lain seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, sehingga untuk menyelesaikan permasalahan infrastruktur maupun tata ruang harus bersinergi.Sebelumnya, DKI Jakarta dinobatkan sebagai kota termacet di dunia. Hasil itu merupakan survei data index stop-start yang dibuat Castrol Magnatec

Penyelewengan Elpiji 3 Kg Masih Saja Terjadi

Penyelewengan Elpiji 3 Kg Masih Saja Terjadi
JAKARTA - Kementerian ESDM menyebutkan kelangkaan gas Elpiji 3 kilogram (kg) yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia lantaran ada oknum yang menyimpan atau menimbun.

Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Migas, I Nyoman Gusti Wirajmaja, mengatakan bahwa hasil penelusuran PT Pertamina, terbukti ada oknum yang bermain dalam kelangkaan gas melon tersebut.
Wirat menuturkan, PT Pertamina telah menelusuri kota-kota yang mengalami kelangkaan, salah satunya Binjai. Padahal, Pertamina tidak melakukan pengurangan kuota pendistribusian.
"Kemarin di Binjai ada kelangkaan Elpiji 3 Kg, Pertamina sudah cek di sana, tidak ada pengurangan kuota, tidak ada truk macet, Tampaknya ada yang nyimpan. Di sisi suplai tidak ada kendala," kata Wirat di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (20/2/2015).
Dari hasil penelusuran, Wirat mengungkapkan bahwa penimbunan yang dilakukan para oknum, lantaran di pihak distributor tidak ditemukan kendala-kendala penyimpanan atau gangguan pendistribusian.
Oleh karena itu, sambung Wirat, pemerintah tengah mengkaji sistem tertutup dan juga dengan melalui kartu dalam melakukan pendistribusian gas Elpiji 3 kg. "Kartu kita lagi gali opsi yang mana duluan, lokasinya di mana, jadi begitu ya," tutupnya.

Mau Lulus, Mahasiswa Harus Rajin Ikut Seminar

JAKARTA – Rajin kuliah itu sudah biasa. Saat ini, mahasiswa juga sebaiknya rajin mengikuti seminar. Dengan begitu, dia turut meningkatkan budaya akademis di kampus.
Bahkan, menurut Pembantu Rektor Bidang Akademis Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Dr Rustono MHum, keaktifan mahasiswa mengikuti seminar, diskusi ilmiah, atau penelitian akan menjadi prasyarat untuk menempuh ujian kelulusan.
"Jika mampu memperoleh poin tertentu dari keterlibatannya dalam seminar, diskusi ilmiah, atau penelitian, baru mereka bisa mengikuti ujian tugas akhir," jelasnya, seperti dilansir laman Unnes, Sabtu (21/2/2015).
Rustono menilai, sangat ironis jika hingga lulus mahasiswa hanya beberapa kali mengikuti kegiatan ilmiah seperti seminar, diskusi, maupun penelitian. Karena itulah, dia mendorong para pengelola program studi kreatif dalam menggelar kegiatan ilmiah.
Misalnya, kata Rustono, dengan menjadikan hasil riset dosen sebagai bahan diskusi atau seminar. Kegiatan ilmiah tersebut bisa juga membahas penelitian atau tugas akhir mahasiswa.
"Kemudian, keterlibatan dalam kegiatan ilmiah itu perlu dipotret untuk menggenapi portofolio dalam surat keterangan pendamping ijazah (SKPI)," imbuhnya.