Wednesday, February 18, 2015

Keuntungan Jadi Mahasiswa Kura-Kura

Keuntungan Jadi Mahasiswa Kura-KuraJAKARTA - Di kampus pasti ada saja mahasiswa yang aktif berorganisasi. Aktivitas mereka kuliah rapat-kuliah rapat, sehingga dikenal sebagai mahasiswa kura-kura. Kesibukan berorganisasi ini sebenarnya memberi banyak keuntungan.
Bagi Talita Anette, sibuk di organisasi bisa meningkatkan rasa percaya diri. Menurutnya, kegiatan organisasi mengajari seseorang berani berpendapat, mencari solusi, dan berinteraksi dengan orang yang berbeda.
"Selain menambah wawasan dan pengetahuan, berkecimpung di organisasi juga bisa membagun jaringan serta membentuk kepribadian, salah satunya yaitu percaya diri," kata Anette, ketika berbincang dengan Okezone, belum lama ini.
Mahasiswi Universitas Indraprasta PGRI ini mengikuti dua organisasi di luar kampus, yaitu Komunitas Fakta Bahasa dan Earth Hour. Anette bercerita, awalnya dia pemalu dan tidak nyaman bertemu dengan orang baru. Sikap itu pelan-pelan hilang karena di organisasi dirinya sedikit demi sedikit belajar berkenalan dengan orang baru.
Cewek yang kuliah sambil bekerja ini memilih organisasi di luar kampus karena tidak bisa menyesuaikan waktu dengan kesibukan organisasi intrakampus. Baginya, di dalam atau di luar kampus,kesibukan di organisasi memberikan banyak manfaat.
"Mahasiswa bisa memilih organisasi mana yang sesuai dengan minat. Karena percuma saja bila gabung dalam sebuah organisasi yang tidak sesuai dengan jiwanya, akhirnya tidak berakhir menyenangkan dan membuang-buang waktu," papar Anette

Bank BUMN Di-merger, Mau Pakai Gaji Siapa?

Bank BUMN Di-merger, Mau Pakai Gaji Siapa?
JAKARTA - Rencana penggabungan dua perusahaan perbankan besar Badan Umum Milik Negara (BUMN) antara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dilakukan dalam rangka menghadapi pasar ASEAB.
Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo mengatakan bila rencana akuisisi tersebut harus diperhitungkan dengan maksimal. Terlebih akan ada perombakan pada dua perusahaan.
"Apakah ini sudah diperhitungkan? Kalau kita enggak benar (mengambil kebijakan) kita akan kena middle income trap. Daripada merger sekarang, ngutak-ngutek paling enggak tiga tahun, saat itu udah ribut lagi pemilu 2019," ungkap Gatot di Jakarta, Rabu, (18/2/2015).
Gatot mengatakan, perbankan Indonesia perlu berkaca pada negara Malaysia yang pada tahun lalu merencanakan merger untuk menjadi bank besar. Akan tetapi, rencana tersebut gagal di awal tahun 2015. "Pada Juli 2014, wacana merger persis mindsetnya kayak siapa itu," imbuh dia.
Menurutnya, terdapat risiko besar yang harus diperhitungkan bila dua perbankan hendak melakukan merger. Di antaranya harus memperhitungkan biaya antara kedua perusahaan, sebab merger membutuhkan dana permodalan yang sangat besar.
Kedua, akan terjadi pengurangan pegawai dan direksi yang berimbas pada peningkatan jumlah pengangguran. Sebagai contohnya, dia mengatakan rencana merger Bank Malaysia yang telah ditentang oleh Serikat kerja.
"Pegawai yang di-PHK 8 ribu. Kalau Mandiri dan BNI merger kan harus menyamakan gaji karyawan. Gaji karyawan mandiri berapa, BNI berapa. Yang sudah gede enggak mau turun, yang gaji kecil maunya naik," jelas dia.
Gatot berpendapat, bila ancaman pasar global tidak harus dengan menggabungkan bank besar, tetapi perlu meningkatkan infrastruktur sebagai akses dalam meningkatkan kinerja perusahaan di Indonesia.
"Daripada mikirin merger yang butuh waktu lama, perhitungan lama, belum tentu hasilnya bagus. Karena satu tambah satu belum tentu dua. Mending fokus pada infrastruktur," tandasnya.Rabu, 

Tuesday, February 17, 2015

Jokowi Incar Pajak dari Perusahaan Illegal Fishing & Illegal Logging

BOGOR - Guna meningkatkan penerimaan pajak pada tahun ini yang sekira Rp1.300 triliun. Pemerintah melalui Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) akan memberantas perusahaan yang banyak melakukanillegal fishing dan illegal logging.
Menurut Ketua PPATK M Yusuf, dengan diberantasnya praktik kegiatan ilegal tersebut, tentunya akan menambah pundi-pundi penerimaan pajak untuk negara.
"Namanya ada pajak terutang, ada surat keterangan pajak kurang bayar berarti ada, maka kita optimalkan. Nah targetnya kan butuh tinggi tahun ini," ucap Yusuf di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/2/2015).
Yusuf menjelaskan, dalam informasi yang disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti terdapat banyak perusahaan ikan yang berinvestasi di Indonesia, sehingga banyak potensi pajak yang dapat digali.
"Saya berikan gambaran nanti kalau PPATK dapat informasi dari ibu Menteri Susi tentang perusahaan ikan yang banyak katanya di Indonesia, kemudian dari Menteri Lingkungan ibu Siti Nurbaya dari perusahaan yang banyak bergerak di illegal logging, maka saya yakin pajak kita bisa lebih diperoleh daripada target itu," tegas Yusuf.
Menurut Yusuf, pihaknya pun dapat mengetahui wajib pajak (WP) yang bermasalah dilihat dari laporan perbankan.
"Enggak kita punya laporan dari setiap 116 bank dan sekian banyak developer lain seperti real estate, dealer dan sebagainya," imbuhnya.
Jokowi kata Yusuf memberikan apresiasi yang tinggi untuk peran bagaimana meningkatkan penerimaan pajak untuk negara.
"Positif dan dia (Jokowi) senang, optimistis," tukas dia.

Amerika Masih Jadi Tujuan Ekspor Utama RI

JAKARTA - Amerika Serikat (AS) masih menjadi tujuan ekspor utama Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, total ekspor menurut negara tertinggi masih diduduki oleh AS dengan nilai USD1,25 miliar.
"Amerika USD1,25 miliar. Ini turun 14,64 persen dibanding Desember 2014, dibanding Januari 2014 juga mengalami penurunan sebesar 2,45 persen," kata Kepala BPS Suryamin di kantornya, Senin (16/2/2015).
Sementara itu, ekspor ke Jepang dan Tiongkok juga mengalami penurunan yang cukup tinggi. Masing-masing sebesar 3,34 persen dan 40,57 persen dibanding Januari tahun sebelumnya.
"Kalau Tiongkok dan Jepang ada perlambatan ekonomi makanya turun," ungkap dia.
Di tempat yang sama, Deputi bidang Statistik dan Distribusi Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, ekspor ke AS masih terjaga karena ekspor barang-barang industri cukup baik. Sementara ekspor Tiongkok dan Jepang merupakan barang-barang mentah.
"Ekspor ke Amerika ini kan barang-barang industri. Kalau ke Asia itu barang mentah makanya mengalami penurunan," ucap Sasmito